Tiap malam seberkas embun hadir
Di pelupuk mata menyambut kedamaian
Saat ku tau langit baru saja
menangis
Menggigil ketakutan oleh kuasanya Tuhan
Lalu lihatlah sang rembulan
Kemanakah ia bersembunyi ?
Di balik bintang-bintang itukah ?
Atau ada di saku celanamu, teman ?
Betapa rindunya kumbang kepada lebah
Betapa cintanya burung dengan sarangnya
Dan betapa bahagianya hubungan gelap
Antara merpati dan singa.
Kuucapkan dua patah kata kepada hujan
‘tolong berhentilah’ membasahi hari
Lalu kulambaikan tangan pada awan yang berarak menjauhiku
Kukedipkan sebelah mataku pada angin yang semilir menyibak poniku
Sementara hujan masih belum berhenti
Kutikam ia dari belakang
Hap! Dan aku basah kuyup
Gemuruh saling menyahut
Seperti saudara tua yang lama baru bertemu
Layaknya lautan yang memeluk gunung
Kubiarkan sejenak
Aku termakan hujan
Aku dibelenggu awan
Sampai tak ku tau telingaku tak terlihat lagi daunnya
Sampai kuku jemariku raib entah kemana
Benar keremangan sudut pandang ini
Terselit bayang wajahmu melingkari pikiranku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar