TAK KEMBALI
Seakan
tenggelam
Seperti kota
menghilang
Seakan
tertimbun
Seperti akar
mentimun
Seakan
beranjak pergi
Terserah
jika kau tak kembali
Atau aku
yang tak pernah kembali
Seperti
jarum jam berhenti
Seakan dunia
mulai ku lupakan
SYAIR
SEMBILAN APRIL
Kala itu ada
seberkas hati sulit ku lupa
Segenap hati
diam tak mau bicara
Pun hanya
berbisik
Terusik aku,
wahai angin malam
Benar kala
itu aku mencintainya
Malam pun
dalam
Seolah
bicara tak ada lagi hari esok
Terduduk
kian mengurai benang cinta
Dari ujung
pelupuk hati terdalam
Rembulan pun
tahu itu, kawan
Lalu
siapakah engkau yang ku cinta?
Mengusik
ketenangan hati dan cinta
Yang bayang
gurat senyumnya tak pernah mau beranjak pergi
Seorang
dewi,
Desir hati
terhenti, laju nafas terbisu terbungkam
Semua hewan
malam menyibak asaku
Sungguh aku
manusia terbaik malam itu, hari itu
Lirih manja
suara di seberang sana
Menggilir
laju darah, sum-sum tulang hingga otak
Menyerap
habis keringat yang tadi menguyupi jemari
Hatiku
berlutut pada sandiwara jiwa ini
Telah takluk
akan rona kian tak biasanya dirimu
Sembilan
april ku rindu, tiap detik hari ku merindu
MATI MELAWAN DUNIA
Kala kedua kaki tak lagi tersentuh tanah
Kau melayang sembari terbungkam
Selayak pesawat, atau debu
Terombang-ambing kian kalap
Perlahan kau menembus lapisan itu
Yang pelan kian menipisdan besok akan tiada
Lalu terhempas luas, samudra angkasa
Nun jauh tak tau tepi, kau sendiri
Kau lukiskan bayangan kebuntuan dunia
Begitu janggal hingga aku pun tak tau seharusnya
Apalagi kau, kau hanya debu
Bayang terlintas kawah-kawah Mars
Pelan kau cakar, kau bentuk sebuah garis, abstrak
Waktu masih seminggu berlalu
Kau kejar Jupiter yang kalap dikebut di orbitnya
Dia besar, kokoh, sangat angkuh bukan main
Lagi-lagi kembali melayang
Menyinggung Saturnus juga angkuh tak terperikan
Kadang begitu indah, romantis
Tek terjaga, kau kembali menuju bumi, dunia nyata
Bumi yang dulu kau tinggal kian acuhkan
Kau menukik menerobos lapisan itu, kembali
Terkoyak, tercabik, aku hampir terperangah
Bak harimau yang menelan biji kurma
Layaknya elang menyenggol ekor komet
Buas, beringas, tanpa ampun
Terhempas di sebuah benalu raksasa
Tertatih engkau karenanya
Menghantam pencakar langit, lalu merobohkannya
Lalu tercelup ke sarang buaya berbulu ayam
Tergigit tersengat belut bercula yang menyebalkan
Lalu tertelan paus arktik seukuran pulau jawa
Engkau dimuntahkan entah karena kekenyangan atau tak enak
Tiba kala engkau terjaga dari bunga mimpimu
Yang lebih panjang dari kota troy ke onje
Lalu kau mati, mati melawan dunia
Gugur dalam pengejaran asa dan mimpi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar