8 Oktober 2013

Kumpulan Puisi dan Sajak new Chairil Anwar | Engkau Puisiku




 TAK KEMBALI

Seakan tenggelam
Seperti kota menghilang
Seakan tertimbun
Seperti akar mentimun

Seakan beranjak pergi
Terserah jika kau tak kembali
Atau aku yang tak pernah kembali
Seperti jarum jam berhenti
Seakan dunia mulai ku lupakan



SYAIR SEMBILAN APRIL

Kala itu ada seberkas hati sulit ku lupa
Segenap hati diam tak mau bicara
Pun hanya berbisik
Terusik aku, wahai angin malam
Benar kala itu aku mencintainya

Malam pun dalam
Seolah bicara tak ada lagi hari esok
Terduduk kian mengurai benang cinta
Dari ujung pelupuk hati terdalam
Rembulan pun tahu itu, kawan

Lalu siapakah engkau yang ku cinta?
Mengusik ketenangan hati dan cinta
Yang bayang gurat senyumnya tak pernah mau beranjak pergi

Seorang dewi,
Desir hati terhenti, laju nafas terbisu terbungkam
Semua hewan malam menyibak asaku
Sungguh aku manusia terbaik malam itu, hari itu

Lirih manja suara di seberang sana
Menggilir laju darah, sum-sum tulang hingga otak
Menyerap habis keringat yang tadi menguyupi jemari

Hatiku berlutut pada sandiwara jiwa ini
Telah takluk akan rona kian tak biasanya dirimu
Sembilan april ku rindu, tiap detik hari ku merindu



MATI MELAWAN DUNIA

Kala kedua kaki tak lagi tersentuh tanah
Kau melayang sembari terbungkam
Selayak pesawat, atau debu
Terombang-ambing kian kalap
Perlahan kau menembus lapisan itu
Yang pelan kian menipisdan besok akan tiada
Lalu terhempas luas, samudra angkasa
Nun jauh tak tau tepi, kau sendiri

Kau lukiskan bayangan kebuntuan dunia
Begitu janggal hingga aku pun tak tau seharusnya
Apalagi kau, kau hanya debu

Bayang terlintas kawah-kawah Mars
Pelan kau cakar, kau bentuk sebuah garis, abstrak

Waktu masih seminggu berlalu
Kau kejar Jupiter yang kalap dikebut di orbitnya
Dia besar, kokoh, sangat angkuh bukan main

Lagi-lagi kembali melayang
Menyinggung Saturnus juga angkuh tak terperikan
Kadang begitu indah, romantis

Tek terjaga, kau kembali menuju bumi, dunia nyata
Bumi yang dulu kau tinggal kian acuhkan
Kau menukik menerobos lapisan itu, kembali
Terkoyak, tercabik, aku hampir terperangah
Bak harimau yang menelan biji kurma
Layaknya elang menyenggol ekor komet
Buas, beringas, tanpa ampun

Terhempas di sebuah benalu raksasa
Tertatih engkau karenanya
Menghantam pencakar langit, lalu merobohkannya
Lalu tercelup ke sarang buaya berbulu ayam
Tergigit tersengat belut bercula yang menyebalkan
Lalu tertelan paus arktik seukuran pulau jawa
Engkau dimuntahkan entah karena kekenyangan atau tak enak

Tiba kala engkau terjaga dari bunga mimpimu
Yang lebih panjang dari kota troy ke onje
Lalu kau mati, mati melawan dunia
Gugur dalam pengejaran asa dan mimpi
 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar